Saya Berbohong (?)

31Mar09

facebookgettyleonneal

Saya memiliki account di Facebook. Ya, saya adalah salah satu di antara berjuta pelanggan Facebook. Nah, di majalah Newsweek edisi 23 Maret 2009, yang ditulis oleh Raina Kelly dengan tajuk “Six Social-Networking Lies” terdapat beberapa ciri-ciri (yang katanya menunjukkan) kebohongan yang dilakukan oleh sebagian besar pengguna Facebook. Betulkah begitu? Mari kita lihat satu-persatu.

1. “I only friend people I know.” Stop pretending you have standard. You will friend anyone. I accept all sorts of people I haven’t seen in 20 years and couldn’t pick out of a line-up.

Tidak sepenuhnya benar, menurut saya. Karena saya tidak serta merta menerima permintaan menjadi teman tanpa saya merasa benar-benar yakin bahwa (paling tidak) saya pernah sekali bertegur sapa atau paling tidak bertemu dengan yang bersangkutan.

Saya juga tidak serta merta menerima saran pertemanan dari teman yang ada di list saya. Bahkan saya dengan sukses mematikan fasilitas notifikasi saran penambahan teman ini. Hehehe… maaf.

2. “Facebook flirting isn’t cheating.” Stop sending your assistant cute virtual gifts. In fact, it’s not appropriate for you to be friending her, or that cute summer intern, in the first place.

Hmm.. saya kurang begitu paham dengan makna “tuduhan” ini. Tapi mungkin kurang lebih adalah bahwa sebagian besar pengguna Facebook menganggap flirting di Facebook bukan merupakan tindakan yang dapat disejajarkan dengan perselingkuhan.

Hmm…  sejauh ini aplikasi yang saya pasang di account Facebook saya sangat terbatas, dan sebagian besar adalah untuk permainan dan kuis. Jadi, saya tidak memiliki peluang untuk mengirim kado-kado virtual yang centil-centil itu kan? Jadinya kecil juga kemungkinan saya untuk berflirting di Facebook kan? Hehehe…

3. “I use Facebook to keep in touch with people.” No, the truth is you’re noisy. We scour the profiles of people because we want to know their shameful business. The oversharing thrills us.

Amazingly, argumen di atas cukup benar. Di samping untuk berkirim pesan (bukan ber-flirting lho ya), saya juga menggunakan Facebook untuk mengetahui what’s on other people’s minds. Cara paling mudah tentu saja adalah dengan membaca/melihat status, serta aktivitas yang dilakukan. Facebook ternyata lebih transparan dan terbuka dari yang pernah dibayangkan. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa Facebook, suatu hari nanti akan menjadi mediator perseteruan. This is fun. ***Grin***

4. “I’m so over Facebook.” I’m not falling for that ironic distancing pose. I know you spend hours looking for other people.

Untungnya saya jarang melontarkan ucapan seperti, “Saya bosan dengan Facebook.” To tell you the truth, hampir setiap saat saya selalu membuka account Facebook saya. Tujuan saya tentu saja adalah bermain game (favorit saya saat ini adalah Mafia War.. (join me please, saya perlu anggota lagi)), dan menjawab berbagai kuis yang ada. Hey, itu kan berguna untuk mengasah otak bukan?

Pernahkah saya menemukan manfaat substantif dari Facebook? Hmm… belum terlalu. Tapi kalau penyelenggara Kursus Online WTO saja memiliki account di Facebook, dan bahkan membuat group, kenapa saya tidak? Hehehe…

5. “And I am so not competitive.” We don’t just want more friends than everybody else; we also want the highest score in Word Twist or Scramble or Flixster quizes or beating everybody else at Texas Hold’Em, because we can hide the self-satisfied smirk behind the internet.

Heck yea. Saya pikir saya adalah orang yang sangat kompetitif (tapi tidak ambisius, tentu saja… hehehe). Tentu saja saya ingin menjadi orang dengan nilai tertinggi dalam menjawab kuis-kuis di Flixster, atau menang di Speed Racing, dan sebagainya. Dan ya, “keberhasilan” semacam itu hampir dapat dipastikan akan terpajang di news-feed.

Satu hal yang pasti, saya tidak akan memajang hal-hal yang saat itu sedang sebenar-benarnya saya lakukan. Hohoho.

6. “Facebook is my friend.” Let’s get this straight: Facebook is a business (albeit one that has yet to make money). Just as casinos hide the exits and pump oxygen into the air to keep you gambling, Facebook wants you to linger within its dotcom wall so that it can attract advertisers to target your dazed little eyes.

Kalau hal ini sih sebenarnya saya sudah sadar sejak awal. Tidak ada makan siang gratisan… Facebook sebenarnya adalah bisnis, yang menggantungkan hidupnya (sebagian besar) dari pemasukan iklan. Coba perhatikan, ada berapa banyak iklan yang muncul di setiap halaman Facebook? Sangat banyak bukan? Bahkan ada yang mengatakan bahwa Facebook merupakan bagian dari salah satu rantai MLM yang ada.

Lantas, kenapa saya “betah” berlama-lama di depan monitor dan membuka Facebook?  Tentu saja bukan karena Facebook adalah teman saya. Tapi lebih karena… mmm… karena… mm… karena saya agak-agak kurang kerjaan begitu? Hehehe…

****

Jadi begitulah ulasan dan tanggapan saya terhadap artikel yang dimuat di majalah Newsweek tersebut (versi online-nya bisa ditemukan di website Newsweek, dan cari artikel dengan judul “Six Social-Networking Lies“.

Kesimpulan saya, argumen bela diri yang disebutkan dalam artikel tersebut memang sebagian besar saya “rasakan” dan “amalkan”. Seperti saya hanya berteman dengan orang yang saya kenal; dan sebagainya.

Tapi seperti juga halnya dengan hal-hal yang lain, setiap orang pasti memiliki pandangan dan alasan masing-masing untuk melanggan Facebook. Dan alasan tersebut bisa jadi sangat pribadi. Dan saya pikir saya berhenti sampai di sini dulu sebelum saya masuk terlalu jauh ke ranah pribadi orang lain.

😀

*****

Foto dari Getty Images

Iklan


No Responses Yet to “Saya Berbohong (?)”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: