Pandawa Lima dan Guru Durna

13Nov08

Terkisahlah guru Dorna, sebagai resi kerajaan Astinapura, diberikan wewenang untuk membimbing dan membina para pangeran kerajaan Astinapura yaitu Kurawa, yang merupakan simbol “segala bentuk kejahatan”, dan Pandawa yang merupakan simbol “segala bentuk kebajikan”.

Meskipun terkadang berupaya untuk bersikap netral, namun sang guru Dorna terkadang pernah menunjukkan upaya untuk menyembunyikan bahwa para Kurawa adalah murid-murid favoritnya. Dorna adalah guru yang tidak segan-segan untuk menunjukkan bias-nya. Sang guru Dorna selalu menunjukkan upaya agar Kurawa selalu tampil sebagai pemenang dalam setiap ajaran yang dia berikan. Mulai dari seni perang, strategi pertempuran, hingga memanah.Namun bukannya tidak menyadari keberpihakan sang Guru, para Pandawa ini tetap menaruh hormat kepada guru Dorna.

Hingga akhirnya perang besar Bharatayudha yang diramalkan pun terjadilah, dan sang Guru pun dengan sepenuh hati memihak kepada para Kurawa. Tidak jarang, dalam peperangan besar tersebut, sang Pandawa harus berhadap-hadapan dan beradu strategi dengan sang Guru.

Dan bahkan dalam peperangan tersebut, diceritakan bahwa Pandawa tetap menaruh hormat kepada sang Dorna. Bahkan sesekali waktu para Pandawa tetap berkunjunga kepada guru Dorna, sekedar untuk menyampaikan rasa hormat.

Dan pada akhirnya, ketika sang Guru Dorna harus gugur dalam pertempuran, karena strategi tipu muslihat Pandawa, para Pandawa-lah yang memakamkan sang Guru itu dengan penuh penghormatan, sebagaimana layaknya seorang perwira perang yang gugur di medan pertempuran.

Satu contoh oleh Pandawa, menurut saya, yang meskipun sangat fiktif, menunjukkan bahwa seorang Guru akan tetap menjadi seorang Guru bagi seseorang.

And when it comes to respect, I am imitating the respect of the Pandawa Lima to the Guru Durna. I think that is only proper.

Seorang guru/dosen/pengajar les, sepanjang dia tidak melakukan tindakan asusila terhadap anak di bawah umur, atau melakukan tindakan kriminal lainnya, meskipun dia mendapat julukan “killer”, apalagi seorang dosen yang mengganjal laju skripsi saya selama bertahun-tahun, adalah layak untuk selalu memperoleh rasa hormat saya.

Because without them, I might not be even half the man I am now. ***

Iklan


No Responses Yet to “Pandawa Lima dan Guru Durna”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: