Kemiskinan Bukan Sekedar Statistik

15Okt08

Sasaran pembangujnan milenium, atau millennium development goals, menetapkan target untuk menurunkan hingga 50% masyarakat yang hidup dengan biaya sebesar 1 dolar AS per hari. Jadi misalnya pada tahun 2000, saat tujuan mulia itu ditetapkan ada satu juta orang yang hidup di bawah 1 dolar AS per hari, maka pada tahun 2012, kondisi itu hanya harus dialami oleh setengah juta saja.

Pemberantasan kemiskinan, atau pemerataan kesejahteraan, merupakan tanggung jawab bersama. Negara, masyarakat dan individu.

Secara normatif, konstitusi republik ini telah mengamanatkan kepada pemerintahnya untuk, antara lain “memajukan kesejahteraan umum”.  Amanat konstitusi ini kemudian dilaksanakan, secara normatif pula dengan membentuk berbagai peraturan perundangan yang ditujukan untuk memberikan panduan lebih jelas untuk mengemban amanat konsitusi yang maha berat itu.

Dalam tingkat internasional, republik ini telah menjadi pihak pada kovenan internasional mengenai hak-hak ekonomi dan sosial budaya (international covenant on economic, social and cultural rights) pada tahun 2005. Republik ini juga mendukung penuh penetapan sasaran pembangunan milenium seperti yang disebut di atas.

Secara kelembagaan, republik ini dilengkapi dengan satu Departemen Sosial, yang secara logika bebas, seharusnya bertugas untuk mendukung pemerataan kesejahteraan itu.

Dengan beberapa kelengkapan seperti itu, sudahkah republik ini bisa menjalankan amanat konstitusi dengan baik untuk memajukan kesejahteraan umum?

Sulit untuk menjawabnya.

Tolok ukur apa yang harus digunakan? Dengan menggunakan tolok ukur MDGs, maka seseorang agar tidak dikatakan miskin harus hidup dengan biaya paling tidak uang sebesar 2 dolar AS per hari. Berarti kurang lebih sekitar Rp. 18.400,00 per hari, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdasar APBN tahun 2008. Berarti dalam sebulan, paling tidak tiap orang harus memiliki pendapatan sebesar kurang lebih Rp. 552.000,00. Itu untuk hidup satu orang. Kalau misalnya satu keluarga beranggotakan empat orang, maka keluarga itu harus berpenghasilan kurang lebih sekitar 2.3 juta rupiah per bulan. Wow.

Itu sebabnya kenapa negara yang (saat itu) cukup kaya pun enggan untuk menjadi negara pihak pada kovenan internasional tersebut. Karena memajukan pemerataan kesejahteraan merupakan tugas yang sungguh sangat berat.

Dan saya yakin bahwa kemiskinan bukan sekedar statistik, dan untuk alleviation-nya juga memerlukan lebih dari sekedar retorika.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Saya pikir saya hanya bisa menyumbangkan satu saran sederhana:, yang bisa diterapkan dalam tataran individu: kembangkan mentalitas untuk tidak mau miskin, hilangkan mental complacency dan mudah puas, dan hentikan percaya bahwa tanah air kita subur dan makmur.

Iklan


No Responses Yet to “Kemiskinan Bukan Sekedar Statistik”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: