Indonesia Tertinggal Dibanding Negara Tetangga

17Sep08

Tulisan ini terinspirasi dari artikel yang ditulis oleh Ninok Leksono pada rubrik IPTEK yang dimuat di halaman 1 (bersambung ke halaman 15) harian Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 yang berjudul, “Zona Waktu RI dan Kajian Ulangnya”.

Kesimpulan awal saya menanggapi tulisan tersebut adalah: saya setuju zona waktu Indonesia maju satu jam lebih awal, artinya WIB yang tadinya GMT+7 menjadi GMT+8, atau WITa yang tadinya GMT+8 menjadi GMT+9, dan WIT yang tadinya GMT+9 menjadi GMT+10, atau mau diseragamkan jadi GMT+8 semua juga boleh.

Intinya adalah, jangan sampai Indonesia “satu jam lebih lambat” dari Singapura dan Malaysia.

Selama ini Indonesia memang selalu tertinggal satu jam dibanding dua negara tetangga tersebut. Artinya, ketika puan-puan dan tuan-tuan di negeri-negeri jiran tersebut sudah mulai beraktivitas, mereka penguasa sejati Nusantara ini masih sibuk dengan urusan yang lain. Ada yang baru bangun tidur lah, ada yang masih bermacet-macet di jalan lah, ada yang masih bengong di halte lah, dan ada yang sibuk ngecengin babu sebelah.

Maka sebenarnya, menurut saya, wajar kalau selama ini pertumbuhan kita (kita? elu ngkali…), utamanya dari sisi ekonomi, tertinggal dari Malaysia dan Singapura. Bayangkan saja, mereka-mereka itu sudah merespon pasar saham Hong Kong yang sudah buka satu jam lebih awal, sementara orang-orang yang ada di WIB masih pada bengong. Nah sementara sebagian besar para pengambil keputusan dan penentu kebijakan negeri ini sebagian besar berada di WIB. Got the picture kan?

Orang-orang di Malaysia dan Singapura juga memiliki kesempatan yang lebih awal untuk memanfaatkan peluang yang ada, yang muncul di hari itu, karena mereka beraktivitas lebih pagi dari orang-orang di WIB itu. Saya ingat kata-kata Chester Cheetah dulu, “Kalau nggak cepet, mana bisa dapeeet…”

Katakanlah penerbangan Singapore Airlines pertama dari Singapura ke Jakarta adalah jam 6 pagi waktu Singapura. Penerbangan Garuda pertama dari Jakarta ke Singapura katakanlah adalah juga jam 6 pagi WIB (perkiraan waktu ini hanya ilustrasi, jangan dijadikan rujukan betulan. Silakan cek ke website masing-masing maskapai untuk mengetahui waktu sebenar penerbangan pertama masing-masing). Dengan waktu tempuh yang sama, 1 jam 45 menit, siapa yang akan lebih dulu tiba di tujuan? Orang yang berangkat dari Singapura, atau yang berangkat dari Jakarta? Siapa yang memiliki peluang untuk mengeruk duit lebih dulu? Siapa yang memiliki peluang untuk “meng-acak-acak situasi” lebih dulu? Siapa yang akan memperoleh hot-lustiously-wet welcome kiss lebih dulu?

Yang bisa menjawab dengan benar, memperoleh tiket Jakarta – Singapura p.p. (bayar sendiri dan ambil sendiri…)

Tentu saja saya juga mengamini gagasan pengkajian ulang zona waktu ini dengan alasan penghematan energi, seperti termuat dalam artikel tersebut di atas. Saya justru heran kok katanya ada biaya sosial politik yang besar dengan penggeseran zona waktu itu. I just simply didn’t get it. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, di mana letak ongkos sosial-politik itu.

Kembali ke pokok persoalan, intinya, dari berbagai gagasan brilian untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan yang lebih dahsyat, saya adalah orang yang percaya, merubah zona waktu satu jam lebih cepat adalah salah satu di antara berjuta cara itu.

Dan saya juga yakin bahwa hal ini sebenarnya sederhana, tidak kompleks, dan yang penting, menurut saya, tidak menarik untuk dijadikan obyek bagi praktek suap menyuap, sogok menyogok, dan segala macam sepupu haram jadahnya. ***

Iklan


No Responses Yet to “Indonesia Tertinggal Dibanding Negara Tetangga”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: