On the Other Side of the Fence, the Grass Is Always Greener… Or Is It? 

02Sep08

(Par 4 Hole 1 Pebble Beach Glof Links, California. Rumput di sini memang benar-benar lebih hijau, apalagi kalau dibanding rumpunya Padang Golf Cilangkap… wah… lewat jauh deh…)

Pernah mendengar pepatah, “Rumput tetangga selalu lebih hijau?” Kalau iya? Setujukah anda dengan pendapat tersebut? Kalau setuju, seberapa persenkah persetujuan anda itu? Kalau tidak setuju, kenapa?

Saya termasuk orang yang tidak sepenuhnya percaya bahwa on the other side of the fence the grass is always greener.

Pada first glance, mungkin benar bahwa rumput tetangga terlihat lebih hijau. Tapi itu bisa merupakan dua hal yang saling berlainan.

Pertama, bisa jadi memang rumput sebelah memang benar-benar lebih hijau, tapi apakah lebih hijau berarti lebih baik? Belum tentu.

Contoh dari kehidupan nyata yang saya alami sendiri adalah ketika jaman dulu kala saya masih harus menenteng laptop yang beratnya nyaris 5 kilo ke sana kemari, terus terang saya ngiler dan iri berat kalau melihat orang lain nenteng-nenteng VAIO nan imut dan ringan itu. Ini jelas… neighbor’s grass is way greener.

Dus ketika saya beroleh kesempatan untuk memperbarui laptop, saya sambangi itu “rumput yang lebih hijau” dan ternyata beroleh kekecewaan. Ekspektasi saya terhadap “rumput yang lebih hijau itu” (dalam hal ini adalah seonggok VAIO imut yang baru saja saya tebus dengan tabungan saya yang sungguh berharga itu) terlalu tinggi terhadap realita.

Konsekuensi logis ekspektasi tinggi yang tidak sesuai dengan realita tentu saja menghasilkan kekecewaan, dong. Sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa the other side of the grass may be green as hell, tapi belum tentu bisa memuaskan saya.

Ke-dua, bisa jadi “rumput sebelah terlihat lebih hijau” hanya karena fatamorgana. Karena kita bosan dengan apa yang ada di depan kita. It’s only natural kok. Manusia bukan makhluk yang stagnan. That’s why we survived over many evolutions.

Coba saja anda tes saat ini juga. Pandangi tembok di depan anda dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu, lihatlah tembok kolega anda di sebelah. Besar kemungkinan anda akan melihat warna yang berbeda, paling tidak tonal warnanya, meskipun sebenarnya tembok anda dan tembok tetangga anda warna dan jenis catnya benar-benar identik, dan bahkan mungkin dari satu kaleng cat yang sama.

Contoh lain, saya dulu senang membaca serial STOP, atau dalam bahasa aslinya dikenal sebagai TKKG. Ketika membaca, pikiran saya sering melayang ke wilayah Jerman yang menjadi latar dari cerita itu. Dan angan saya pun berkembang untuk bisa tinggal di Jerman, Belgia, Belanda, atau manapun di Eropa Barat (saat itu).

Wishes granted, sekarang saya tinggal di Belgia. Apakah benar bahwa grass over here is greener than the one back home? Mungkin iya. Tapi jelas, menurut saya, negara ini payah. Kita sering mengeluhkan tentang birokrasi negara kita sendiri. Tapi pengalaman saya dengan birokrasi di sini, halah, tidak kalah menyebalkannya. Saya harus menunggu dua bulan lebih untuk bisa menikmati internet di rumah. Saya harus menunggu dua bulan juga untuk urusan kendaraan. Sehingga sepanjang pengalaman saya, tidak ada urusan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Contoh lagi, ketika serial TV “Friends” sedang menjadi hit, saya membayangkan alangkah aduhainya apabila bisa tinggal di New York. Dan kesempatan itu pun datang. Saya bisa tinggal di New York untuk waktu tiga bulan. Lumayannn… Tapi saat itu New York berasa enak karena nampaknya semuanya telah tersedia untuk saya. Saya tidak perlu susah-susah cari kerja, tidak perlu cari apartemen dan membiayai mortgage-nya, tidak perlu mendaftarkan penghasilan saya ke IRS, tidak perlu menjaga susah-susah menjaga credit rating. Intinya saat itu saya tinggal datang, bekerja, terima gaji dan habiskan.  Saya jadi punya bayangan, apakah cerita akan sama apabila saya ke sana menjadi kelas pekerja di Amerika?

Hell no. Karena memang hidup di New York (dan di manapun, sebenarnya) akan menjadi nikmat apabila kita hanya benar-benar tingal menikmati semuanya, karena semua sudah tersedia. Saya yakin-seyakin-yakinnya bahwa saya tidak akan bisa survive New York lebih dari 30×24 jam apabila saya benar-benar harus tinggal di sana sebagai New Yorker, dan bukan sebagai turis atau pengunjung okasional.

Artinya, apabila saya harus berkompetisi dengan sekian banyak orang di melting pot of the world itu untuk mengumpulkan sen demi sen dan dolar demi dolar the way all working class Americans are doing back there, saya yakin saya akan pulang ke Indonesia sebelum genap satu bulan saya berada di sana.

Pertama, karena saya tidak punya applicable skill yang bisa mendukung keberadaan saya. Serius, pengetahuan tentang komputer hanya pas-pas-an, bahasa Inggris saya tidak lebih baik dari bahasa Indonesia saya, dan yang paling mendasar, saya dibesarkan di negeri yang terlalu lama terbuai dengan berbagai mimpi indah: gemah ripah lih jinawi; tongkat ditanam, pohon dituai; tanah subur kaya makmur. Mimpi-mimpi itu telah ‘mematikan’ will to survive saya dan basic skill saya untuk menghadapi tantangan yang agak besar.

Those Americans ara never raised by slogans that are saying Amerika Serikat subur kaya makmur. Sejak kecil mereka ditanamkan sifat untuk tegar dan mandiri, serta ditanamkan nilai bahwa I have to fight to survice no matter what. Lha kalau saya ditaruh di New York untuk bersaing dengan mereka-mereka itu ya mending saya minggir jauh-jauh…

Atau saya juga tidak memiliki keahlian memasak seperti si Ming Liu yang punya warung makan China di pojokan antara East 42nd Street dan 2nd Avenue itu. Atau si (aduh, saya lupa namanya) Korea yang tinggal persis di depan apartemen saya di Queens yang jago bisnis laundry.

Simply put, I will surely vanish di tengah-tengah padang rumput nan hijau meraja itu.

Bukan pula berarti bahwa tanpa skill saya juga akan bisa survive di Indonesia. Tapi paling tidak, di sana masih ada saudara yang bisa saya gerecokin untuk membantu sekadarnya if ever (godforbid, knock on wood) something should happen on the way to heaven.

****

Jadi, kembali ke rumput, mungkin sebenarnya bukan rumputnya yang lebih hijau. IMHO, kita hanya memerlukan (kita? elu ngkali… :p) sedikit variasi dan hal lain selain yang kita kerjakan secara rutin setiap hari.

Dan kalau memang menurut kita rumput tetangga lebih hijau, jangan terus kita membenci rumput sendiri.

Because you may end up in a deadly need for any kind of favor from someone/something/somewhere you hate her/him/it the most, or you may also end up finding yourself in a heartthrobbing hatred with someone/something/somewhere you dearly love.

Proportionate.

And as long as I can score one under par, I couldn’t care a less whether the grass is green, or red, or blue, or colorless. Nuff said!

Iklan


No Responses Yet to “On the Other Side of the Fence, the Grass Is Always Greener… Or Is It? 

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: