Wayang Golek

10Jun08

Wayang Golek (Wooden Puppet)

Saya tidak hapal satu persatu siapa saja tokoh yang tergambar dalam dalam foto di atas. Pun saya bukan seoran pakar tentang wayang. Jangankan pakar, menyaksikan pertunjukan wayang, baik wayang kulit, wayang orang, maupun wayang golek, saja sangat jarang saya lakukan. Kecuali kalau ketoprak mau digolongkan ke dalam wayang. Terlebih lagi ketika masih ada pertunjukan ketoprak humor di siaran televisi beberapa tahun lalu.

Padahal sebenarnya banyak falsafah dan nilai yang bisa dipetik dari cerita pewayangan. Hal yang paling sering ditonjolkan adalah bahwa yang baik akan mengalahkan yang jahat, kebenaran akan mengalahkan kebathilan, Pandawa mengalahkan Kurawa.

Ada pula nilai bahwa apa yang terlihat buruk dari luar, belum tentu buruk di dalam. Bahwa Buriswara adalah seorang raksasa dengan perangai jahat, itu memang sudah pakem. Tapi Sri Kresna, yang digambarkan sebagai wayang paling bijak, digambarkan sebagai sewayang (untuk mengganti seorang) yang bermuka hitam legam, jauh dari kesan ganteng. Harya Bima a.k.a. Werkudara meskipun digambarkan sebagai sewayang yang beringas, grasa-grusu dan penaik darah-pun dikatakan memiliki sifat yang baik, jujur, lurus dan apa adanya.

Seiring dengan berubahnya jaman, yang merupakan keniscayaan nyaris tidak terbantahkan, wayang sudah semakin terpinggirkan. Gatotkaca pasti akan kalah oleh Ksatria Baja Hitam. Kesetiaan Drupadi kepada Yudhistira juga semakin terpinggirkan oleh gigihnya Joseph Francis Tribbiani mencari teman kencan yang berbeda setiap hari.

Tidak ada yang salah dengan perubahan jaman. Tidak ada yang salah dengan perubahan nilai. Kesalahan baru bisa dikatakan telah terjadi ketika yang “baik” digusur oleh yang “tidak baik”, atau ketika “kebenaran” dipinggirkan oleh “kejahatan”. Itu pun semuanya bersifat nisbi. Relatif. Tergantung dari siapa yang memandang dan mengatakan. Benar untuk saya, belum tentu benar untuk orang lain.

Banyak sekali nilai-nilai dan norma yang masih belum memenuhi kaidah universalitas; yang bisa diterima oleh setiap orang. Apa yang baik buat saya, belum tentu baik untuk orang lain.

Iklan


One Response to “Wayang Golek”

  1. hey welcome to your new blog, ya Julie I think much easier to say it than the real name one, especially if you’re not Javanesse, hehehe..My friend Nurul who is travelling with me to States, has a new name Lou, since American always have difficulties to mention N-U-R-U-L..

    Also our interpreter and chaperone here, Shawn Calanan studied Karawitan in ISI Jogja for 14 months. Damn, even it doesnt cross my mind at all to learn about Karawitan.. Kebanggaan semu ? Bener dah, campur aduk rasanya hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: